http://cursor.com/images/25a.gif http://cursor.com/images/33a.gif http://cursor.com/images/40a.gif illa's blog: Esar Adik Yang Kusayangi
Harry Potter Magical Wand

search aja di

Google

Senin, 25 April 2011

Esar Adik Yang Kusayangi

Suasana pagi itu tampak cerah, terlihat matahari sudah menampakkan dirinya disebelah Timur sisi langit. Orang-orang sudah terlihat rapi mengenakan atribut pekerjaannya masing-masing, tanda bahwa mereka tengah mempersiapkan diri untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing.Anak-anak berlari-lari kecil menuju arah jalan raya, kemudian melambai-lambaikan tangan berharap ada angkutan umum berhenti didepan mereka untuk mengangkut mereka kesekolah masing-masing. Tak kalah dengan bapak-bapak dan Ibu-ibu disekitar kompleks perumahan itu. Mereka semua sibuk dengan aktivitas paginya masing-masing.


Suasana tersebut tak beda jauh dengan keadaan didalam rumah mewah yang berada di komplek elit, Perumahan Citra Fajar A. 'Mbak inem, Mama sama Papa pada kemanasih?!' Tanya seorang gadis cantik berumur sekitar 17 tahun sebut saja namanya DELI.
'Mbak inneemm! Mama papa mana sih?!' ulangnya ketika orang yang ditanyai tidak juga menjawab.


Dari pintu dapur keluarlah sosok wanita muda dengan berpakaian pergi kekantor sejak tadi pagi.' ujarnya terbata-bata sambil menyiapkan sarapan untuk Deli.
Dikeluarga kecilnya Deli memiliki seorang adik laki-laki bernama ESAR, namun rupanya Esar tidak seberuntung Deli. Dari kecil Esar tidak memiliki kaki dan tangan namun Esar sangat ceria, tidak pernah terdengar dari mulutnya kata-kata yang menunjukkan  kekesalan dengan keadaan sekarang. Itulah yang membuat kedua orang tua Esar dan Deli sangat menyayangi Esar dan selalu menuruti apa yang Esar minta.

'Eh! Deli. Hei, Apa kabar?'Tanya seorang sahabat Deli ketika Deli baru sampai dikelasnya XII IPS 1. Delipun menoleh, 'Baik!' Jawab Deli singkat. Deli bukan dikenal sebagai orang yang ramah ataupun murah senyum bahkan teman-teman Deli mengenal sosoknya sebagai sosok yang sombong, jutek dan tidak ramah. Namun sebenarnya sosok Deli yang sesungguhnya tidak seperti apa yang dikatakan teman-teman sekolahnya itu. Hanya pembawaan Deli yang cuek.

Disekolahnya Deli dikenal sebagai siswi populer, dengan kekayaan orang tua yang melimpah Deli sudah terbiasa sekolah dengan menggunakan mobil sendiri. Namun sebenarnya Deli mengakuihidupnya tidak sebahagia seperti apa yang orang lihat!

Didalam rumah mewah bak istana raja, siang itu hanya ada Esar dan Mbak Inem. Mbak Inem duduk ditepi tempat tidur dan sepiring makanan yang akan diberikan pada Esar. Dengan menonton film kartun kesayangannya dikamar mewahnya. Sesekali Esar tertawa kecil melihat tokoh kartun kesayangannya bertingkah konyol.'Ak..! mbak ak mbak.. akk..' Esar membuka mulitnya tanda bahwa makanan dimulitnya sudah habis dan minta diisi kembali. Mbak Inem pun menyuapi Esar.

Gubraakk..! Tiba-tiba suara pintu dibanting terdengar.
'Eh, tuh.. mbak Deli udah pulang sekolah, sebentar ya, mbak Inem mau ngurusin mbak Deli dulu.. Esar disini dulu ya' jelas mbak Inem pada Esar. Esar pun hanya mengangguk.
Deli memang terbiasa melakukan hal-hal yang apa menurut nya enak. Tanpa memikirkan yang lain, tanpa memikirkan keadaan orang lain. Dan satu hal lagi pengakuan Deli, Deli membenci Esar! 

Konflik kakak adik ini sudah ada sejak Esar muncul di dunia ini. Bukan karena Deli malu mempunyai adik cacat dan penyakitan tetapi lebih karena Esar lebih diperhatikan oleh kedua orang tuanya dibandingkan Deli. Smapai pada suatu saat Esar masuk rumah sakit, kondisinya memburuk setelah Esar jatuh dari tempat tidur dan kepalanya membentur meja disamping tempat tidurnya. Esar tidak sadarkan diri dari rumah hingga sampai ke rumah sakit. Mbak Inem dengan panik mendampingi Esar, menatap Esar yang tampak pucat pasi dengan kepala yang bercucuran darah. Esar pun sampai di UGD, Mbak Inem pun disuruh menunggu diluar UGD. Mbak Inem berlari-lari kecil mencari telepon umum terdekat, sesampainya didepan telepon umum dengan napas terengah-engah mbak Inem memencet tombol-tombol nomor yang dituju. 

'Halo.. Halo bu.. Ibu dimana? Ini Inem bu. Den Esar masuk rumah sakit!'ujar Mbak Inem dengan terburu-buru. 'Halo?! telpon Deli aja mbak! Saya sibuk' sahut mama Esar dari seberang telepon. 'Tapi bu Hh..' belum sempat mbak Inem meneruskan perkataannya mama Esar menyahut 'Udah mbak?! Saya ini lagi sibuk, kamu telpon aja si Deli nanti masalah uang saya transfer di tangungannya Deli!' tuutt.. tutt.. Telepon pun ditutup. Dengan perasaan galau, mbak inem meraba-raba kantung celananya berharap menemukan uang koin. Lalu ia menekan tombol-tombol nomor telepon lain. 

Pertama, tidak ada sahutnya. Kedua, ketiga tidak ada jawaban atas nomor yang dituju. Dengan perasaan gusar mbak Inem meletakkan ganggang telepon, mondar-mandir didepan telepon umum sambil meremas-remas kedua tangannya tanda kebingungan sedang melanda mbak Inem. Beberapa menit kemudian mbak Inem mencoba menghubungi Deli, dengan harap-harap cemas mbak Inem menunggu sahutan dari seberang telepon.
'Halo?! Sapa nih?' sahut orang diseberang telepon, dengan nada jutek.
'Puji Tuhan, ini mbak Inem non Deli. Non, den Esar masuk rumah sakit, tadi saya sudah telepon ibut tapi katanya ibu saya disuruh telepon non Deli. Kesini ya non saya bingung mesti gimana lagi!' 'Aduh lagian si Esar ngerepotin aja deh, iya tunggu aja deh!' Jawab Deli.

Esar semakin kritis.
Singkat cerita, Esar dinyatakan meninggal dunia. Mbak Inem dengan sangat histerisnya menagis dengan menjadi-jadi. Deli yang sejak tadi menahan tangisan, akhirnya menangis juga. Tampak diwajahnya raut duka, kehilangan. Yang bisa dilakukan kala itu hanya menangis dan menangis. Entah mengapa sangat kontras dengan apa yang terjadi antara Deli dan Esar, setelah kepergian Esar Deli sangat berubah lebih melankolis.
Sampai hari penguburan Esar, orang tua Esar dan Deli tidak juga hadir.

Sepulangnya dari acara pemakaman Esar, Deli langsung menuju kamar, terdengar suara benda-benda yang sengaja dilempark. Tok.Tok..Tok 'Non.. Non Deli kenapa? Buka pintunya non.. Bapak sama Ibu pulang!' kata mbak Inem didepan pintu kamar Deli. Tanpa basa-basi Deli langsung keluar tanpa memperhatikan mbak Inem lagi, langsung menuju ruang tamu, dilihatnya kedua orang tuanya sedang duduk-duduk santai disofa rumah tersebut. Deli mengambil vas bunga kemudian dilemparkannya didepan orang tuanya hingga beling-beling bertebaran dilantai.

Esar Adik Yang Kusayangi

'Kemana aja kalian! Anak kalian itu baru aja mati! Apa kalian gak peduli!!!' Teriak Deli pada orang tuanya. 
'Mama tau nak, maapkan mama papa' ucap mama Deli disertai tangisan. 'Apa kalian gak peduli? ' kata Deli.
Papa Deli pun memeluk Deli dan mama Deli 'Mama dan Papa memang salah, Maafkan mama papa ya. Kita relakan kepergian adikmu' Kata papa Deli. Mereka bertiga pun menangis didalam dekapan papa Deli. Kejadian itu membuat keluarga ini menjadi lebih baik.

By: Alvernas Aningpasca

Tidak ada komentar:

Posting Komentar